Apakah Benar Sakit Itu Boleh Meluruhkan Segala Dosa-dosa Kecil

Apakah benar sakit itu boleh meluruhkan segala dosa-dosa kecil |Apakah benar sakit itu boleh meluruhkan segala dosa-dosa kecil manusia?

Benar sekali, sakit dan musibah itu bisa menjadi sarana untuk peluruhan dosa. Namun, tentu tidak serta merta demikian jika dalam hati dan sikap justru kita tidak menerima, atau tidak sabar atas apa yang menimpa kita itu.

Sabar tak hanya dilakukan ketika kita diuji dengan sakit, tetapi juga ketika kita diuji dalam kondisi sehat. Ketika sedang diuji sakit, kesabaran seseorang akan tampak dari akhlak dalam menyikapinya.

Telah disebutkan dalam Shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiallohu ‘anhu bahwa RasulullahShallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda:

ما أَنْزَلَ الله دَاءً إلا أَنْزَلَ له شِفَاءً “Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit melainkan Allah telah menurunkan untuknya obat penyembuh,” (HR.Bukhari,no:5354)

Demikian pula disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Jabir radiallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فإذا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عز وجل “Setiap penyakit ada obatnya, jika obat itu sesuai dengan penyakitnya, akan sembuh dengan izin Allah Azza wajalla,”(HR.Muslim¬,no:2204)

Disebutkan pula dari hadits Usamah bin Syarik radiallohu ‘anhu, berkata : Telah datang seorang Baduwi kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia terbaik? Beliau menjawab: yang paling baik akhlaknya.

Lalu Ia bertanya lagi: Wahai Rasulullah, Apakah boleh kami berobat? Jawab Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, “Berobatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit melainkan Allah menurunkan obat untuknya, ada yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya.”

Dengan demikian sesungguhnya, sangatlah merugi bagi seorang yang ketika diuji sakit disikapi dengan emosi. Tetap saja tak akan menjadikannya sembuh dari sakitnya, bahkan akan menambah deritanya. Kalau mereka mengetahui bahwa sakit itu akan meluruhkan dosa,

Mungkin mereka akan sangat bersyukur telah diberi sakit. Selanjutnya, bagaimana sikap sabar kita dalam menghadapinya? Ada beberapa sikap sabar yang dapat kita latih saat kita diuji sakit.

Sikap Berprasangka Baik Kepada Allah, Sikap tersebut dapat kita awali dengan sikap menyadari sepenuhnya, bahwa tubuh ini bukan milik kita, melainkan milik Allah Swt. Dia-lah yang menjadikan kita sehat, sakit, dan lain sebagainya. Walaupun kita berobat ke dokter, tetapi semua keputusan ada dalam kehendak-Nya.

Selain itu, kita patut menyadari bahwa setiap sakit yang kita derita pada hakikatnya sudah diukur Allah Swt. Sikap sabar tersebut akan berbuah keyakiyang. Kita akan meyakini bahwa Allah Swt.

Tak akan menimpakan suatu penyakit pada kita bila tak ada hikmahnya. Sehingga, kita terpanggil untuk mengevaluasi diri. Mungkin saja sakit yang kita derita sebab kita tak memenuhi hak anggota tubuh kita dengan benar.

Misalnya, kita melalaikan diri dengan memporsir pikiran sehingga kepala menjadi pusing, mengabaikan hak perut sehingga perut menjadi sakit, tak menyempatkan olahraga sehingga tubuh mudah lemah, dan kelalaian dalam memenuhi hak anggota tubuh lainnya.

Sikap Menerima Sepenuhnya Ketentuan Allah SWT, sikap ini dilakukan dengan cara tak berkeluh kesah, atau bahkan berputus asa. Berkeluh kesah dan berputus harapan merupakan tanda-tanda dari ketidaksabaran. Biasanya orang sakit bukan menderita sebab sakitnya, tetapi lebih kepada sikapnya yang hiperbola dalam menghadapinya.

Hal ini mengindikasikan bahwa orang tersebut kurang dapat menerima ketentuan Allah Swt. sehingga ia terdorong keinginannya untuk dikasihani dan orang-orang berempati padanya.

Memang tak mudah menerapkan rasa sabar dan syukur pada saat kesusahan. Oleh sebab itu, separah apapun penyakit kita, cobalah untuk menghadapinya secara proporsional dan tak berlebihan.